Puisi Tentang Perjuangan

Puisi Tentang Perjuangan

kumpulanperibahasa.web.id Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Puisi Tentang Perjuangan. Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai Puisi Tentang Perjuangan Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai Puisi Tentang Perjuangan

Menyaingi Matahari
Ku kalahkan kau dengan semangat berkobar
Berkompetisi meski tanpa pendaftaran perlombaan
Kita rival dalam kenyataan sesungguhnya berteman

Merangkai mimpi sembunyi tersimpan
Angin pun tak kuijinkan mencuri dengar
Setiap hati pahatan mimpi terus menebal
Deras peluh adalah sorakan dukungan

Deru tepuk tangan nyata dalam bentuk keperihan
Ku kalahkan kau tanpa ampun dan belas kasihan
Pagiku lebih awal dari matamu yang terbuka
Dan aku belum akan lelah saat kau berhenti bersinar

Membiarkanmu terlelap damai malam adalah perputaran rodaku melaju bebas
Kencang melesat, kau kini tertinggal jauh
Untuk mu
Akan aku kalahkan
Matahari sinarmu akan aku redupkan

Berdamai
Putus asa, aku pun alami
Kekecewaan, siapa yang belum pernah rasa?
Kegagalan menjadi seperti terbiasa, aku
Rontoklah tulang, berdiri aku tak lagi mampu

Aliran peluh tenggelamkan mimpi dalam lelah tiada berkesudahan
Alam raya seolah ikut memaki, menghardik brutal bersorah menghina
Aku pecundang tak punya harga diri, ku dengar katamu
Aku pecundang tak lagi mampu tinggikan dahi

Gelap hidup, tak pernah siang mau berteman denganku
Guyuran hujan terjadi di setiap waktu
Duka lara aku tak mampu berlapang dada
Maka nurani berkata berdamailah
Ku ampuni garis merah kelemahanku

Mengibarkan bendera putih merangkul jiwa yang lama tak lagi aku kenali
Perlahan menegakkan, perlahan …
Khayalanku biar menjadi teman fantasi abadi
Sakit semua orang mempunyai

Ampuni dirimu bukan seorang peri
Berjalan terseok ku patahkan sayap robek ini
Dunia luas dapat kujejaki dengan kaki

Renungan
Permata dan emas berkilau menggoda
Umpan-umpan kerdil tawa licik menyeringai

Jiwa jahatku mulai mendominasi
Tinggi menjulang seakan bersenyum genit, permata dan emas
Membuka kekufuran sembunyikan rasa syukur
Jauh disana semua begitu mudah, kurasa

Menengadah dan semua tersedia
Pepohonan mempersilahkan buahnya untuk berpesta pora
Mampukah aku bertahan esok hari berdiri ditempat ini
Jauh diseberang alam berhiperbola

Rumput kering dan sedikit tetes hujan, disini
Menahan lapar menjadi keseharian hal biasa
Mengikuti menukar mulianya hati
Emas permata tak susah kau temui

Rupiah Kau Bukan Tuanku
Kecil, dunia melihatku tak berarti
Tak terlihat terkalahkan oleh tumpukan yang kau sebut dengan berharga
Kilau mu tak akan pernah ada hanya dengan andalkan budi
Bumi yang tua sudah rabun memandang anak-anak mereka
Jangan lagi sebut soal hati

Dunia telah lama menutup diri dari kekagumannya
Semua pintu rapat terkunci
Pembaharuan sistem kau harus menyadari
Kau kaya?
Menjadi pertanyaan wajib di semua pintu dunia

Koin emas adalah kunci pintu kemana saja pribadimu
Hatimu mulia tak pernah akan kau dianggap ada
Suaramu akan tenggelam dalam kemericik recehan saku orang kaya
Berdiamlah menunggu mati

Baca Juga :Puisi Pengkhianatan Cinta

Dua Tangan
Jemariku jemarimu meregang tak lagi erat memeluk
Merdu kata maaf menjadi makian yang semakin kasar
Bahasa tubuh antara kita isyaratkan sebuah rasa yang asing
Berakhir, akhiri sajalah,
Bisik hati terbakar emosi
Kepalaku kepalamu

Kalahkan damai hati bijak berbisik lirih
Dua tangan pernah bergandeng erat
Dua mimpi pernah terajut bersama
Sudah saja biarkan semua berakhir, kepala kini menjadi penguasa
Demi hati aku merendahkan diri

Memohon hujan mengguyur deras berusaha lenyapkan janji
Dua tangan aku menengadah
Memohon cahaya kasih dalam binalnya kemarahan mendominasi

Dibawah Naungan Mimpi
Terpisah kini aku dan kamu
Berbeda arah lari menjauh
Hilanglah sudah apa arti kita
Puing itu meninggalkan sisa aku dan kamu

Lenyap hilang cinta tak lagi ada
Yang terjadi menjadi sebuah tanda tanya
Dibawah naungan mimpi pernah aku dan kamu menjadi kita
Menjadi satu tenang dalam langkah yang pasti