Puisi Percintaan Yang Memilukan

Puisi Percintaan Yang Memilukan

kumpulanperibahasa.web.id Akhir dari hidup adalah kematian,akhir dari cinta adalah putus asa.Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Puisi Percintaan Yang Memilukan. Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai Puisi Percintaan Yang Memilukan. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Puisi Percintaan Yang Memilukan

RIBUTNYA HUJAN BERSAMA ANGIN

jiwa yang telah dikecewakan,
kini hidup dengan senyuman alam,
bagaikan cantuman kecil membaiki jiwaku,
kamu, kamu, dan kamu,
telah menceriakan hariku,
seolah-olah hatiku bergabung dengan tiupan angin,
aku bukan sendiri,
sedangkan daun yang berguguran itu penyeri hidupku,
aku berbahagia meskipun hujan membasahi tubuhku,
dengarkan nyanyian sepi hingga tawaku,
aku bisa memainkan watak dunia,
berjalan aku demi memahami,
setiap untaian ujian itu mengajar bukan untuk penghinaan,
tapi surat cinta dari Tuhan,
terima kasih pada Kekasih hati,
Kau lah segala-salanya dalam hidupku,
hingga matiku aku menujuMu..

Akhir yang Bimbang

Aku tidak pernah tau
Rasa yang berawal sempurna
Menjadi tidak sempurna
Karna adanya keraguan

Aku tidak pernah tau
Hubungan yang berawal nyata
Menjadi tidak nyata
karna adanya ketidakpercayaan

Aku tidak pernah tau
Pilihan yang berawal tetap
Menjadi tidak tetap
Karna adanya ketidakyakinan

kau tlah bersamanya

Apa bila esok pagi
Kau terbangun,,
Lihat lah kaca jendelamu..

Ia kan basah…
Itu bukan embun pagi
yang turun dari
ARZY sana..

Tapi…
Itu adalah air mataku
yang tlah tumpah
Karena kau…
Telah bersamanya…

Baca Juga :Puisi Perpisahan Sekolah

Kebenaran Cinta

Putih kulitmu
Wangi harum itu
Membuat semua orang terpanah dan membisu
Rambut panjang dan lurus
Tidak menghalangi wajah cantik mu
Jika benar warna kulit tidak bisa mempersatukan kita
Apakah cinta bisa menghapus itu

Badai pasti Berlalu

Badai besar itu datang tanpa ku undang..
Asaku luluh lantak..
Saat kulihat bidadariku marah..
Pondasi cintaku pun runtuh dalam sekejap..
Menyisakan puing penyesalan yang mendalam..
Wahai bidadariku..
Dengarlah harapan dari sisa keyakinanku..
Ku ingin cinta kita sekuat karang..
Jangan biarkan rindu terkikis..
Jangan biarkan harapan kita menipis..