2

Peribahasa Sunda yang Berisi Sindiran

Peribahasa Sunda yang Berisi Sindiran – Sunda terkenal dengan bahasanya yang sangat di kenal di berbagai wilayah di Indonesia. Selain memiliki aneka kuliner yang dapat menjadi khas Sunda, ada juga beberapa peribahasa sunda yang sangat terkenal berisi tentang sebuah sindiran. Berikut adalah ulasannya

1. Harus Saling Mengasihi
Kudu Silih Asih Silih Asah Jeung Silih Asuh.

Arti dari pepeling atau pepatah Sunda di atas ialah saling mengasihi, saling mengajari dan saling menjaga satu sama lain.

Sebagai mahluk sosal, dan bermasyarakat, manusia tentu tidak dapat hdiup sendiri, artinya membutuhkan orang lain.

Rasanya apabila pepatah ini mampu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, yang tersisa pastilah kedamaian. Bagaimana tidak, setiap orang atau sesama saling mengasihi, saling mengajari dan memperhatikan satu sama lain.

2. Kesungguhan & Kerja Keras
Cai Karacak Ninggang Batu Laun Laun Jadi Dekok

Arti dari peribahasa di atas ialah tetesan air sedikit yang kena batu, lama kelamaan akan meninggalkan bekas pada batu.

Jika tidak percaya, coba perhatikan batu di sungai, tidak sedikit batu yang mengecil dan meninggalkan bekas tetesan air yang sedikit.

Jauh dari pada itu, peribahasa ini mengajarkan kepada kita untuk terus maju dengan kesungguhan, ketekunan dan keyakianan, sebab lambat laun yang dituju itu akan hasil dan nampak.

Ketika sedang bekerja, maka kerja dengan kesungguhan, sehingga yang dikerjakan terlihat dan nampak hasilnya.

Ketika sedang belajar atau study, tekunlah dalam belajar meskipun itu susah, hingga benar-benar paham dan mengerti.

3. Komitmen
Sacangreud Pageuh Sagolek Pangkek.

Komitmen, menepati janji serta konsisten. Kurang lebih itulah makna yang terdapa pada peribahasa Sunda di atas. Orang baik atau tidak, salah satu ukutannya ialah tentang komitmen dan konsisten dalam suatu perkara.

Baca Juga  : 2 Cerpen Tentang Persahabatan Di Sekolah

Maka hendaklah diperhatikan saat kita berjanji dan memilih keputusan, jangan sampai temasuk ke dalam orang yang ingkar.

4. Kejujuran
Ngeduk Cikur Kedah Mitutur, Nyokél Jahé Kedah Micarék.

Jujur, tidak mengambil hak orang lain, tidak korupsi dan merugikan orang lain, kiranya menjadi bekal untuk menjalani kehidupan yang baik dan bahagia. Bagaimana mungkin kebahagiaan itu akan datang, jika tidak jujur dan bahkan merugikan orang lain. Bukannya kebahagiaan yang datang, namun ketidak tenangan.

Orang Sunda jaman dahulu (kuno), sangat memegang erat kejujuran dalam kondisi apapun, mereka lebih baik hidup dalam kesederhanaan, dibandingkan hidup mewah tanpa kejujuran.

Hal ini sama halnya dengan orang padang, terlihat dari pepatah Minang yang menunjukan kejujuran.

Bahkan mereka amat memperhatikan sumber harta yang didapatkan dan dinikmati, jika sumbernya tidak jelas, maka lebih baik tidak memakannya.

Hendaknya memang demikianlah dalam bertindak dan berperilaku di dunia ini, dengan demikian ketenangan akan di dapat.

5. Ucapan & Perilaku
Kudu Hadé Gogog Hadé Tagog

Harus baik ucapan, baik pula penampilan dan perilakunya. Penampilan yang baik akan mendatangkan penghormatan dari orang lain, serta berwibawa.

Akan tetapi penampilan saja tidaklah cukup, sebab dibutuhkan hal lain, diantaranya ialah ucapan yang baik, sebagai perhiasan.

Ucapan yang baik, harus dibarengi dengan perilaku yang sesuai. Tentu tidaklah elok apabila ucapan tidak sesuai dengan perilaku.

Bahkan dikatakan orang yang paling buruk ialah dia yang ucapan dan perilaku tidak sesuai. Untuk itu hendaklah menyelaraskan antara perilaku dan ucapan.

6. Hikmah
Nimu Luang Tina Burang.

Pepatah Bahasa Sunda di atas memiliki arti menemukan hikmah dari suatu kejadian. Kehidupan ini senantiasa dihiasi dengan kekecewaan dan kebahagiaan, saat menemukan kekecewaan rasanya akan rugi apabila kita tidak temukan hikmah di dalamnya.

Manusia yang mampu menemukan mutiara hikmah dalam setiap kejadian, akan menjadi orang yang terus berkembang.