Pelajaran Hidup Dipetik dari Peribahasa

Pelajaran Hidup Dipetik dari Peribahasa

Pelajaran Hidup Dipetik dari Peribahasa – Peribahasa “tak adan gading yang tak retak” menjadi salah satu peribahasa yang paling relate denga kehidupan, peribahasa ini memiliki beberapa arti dalam kehidupan.

Peribahasa ‘tak ada gading yang tak retak’ artinya tidak ada sesuatu yang tidak ada cacatnya. Pasti sudah gak asing kan, dengan peribahasa yang satu ini http://162.214.117.184/? Namun mengetahui artinya saja belum cukup, lho.
Peribahasa ini akan lebih berguna dalam hidup kita jika kita mengetahui pelajaran yang terkandung di dalamnya. Seperti lima hal berikut ini yang penting banget untuk dijadikan pegangan hidup. Catat, ya!

1. Gak perlu malu mengakui kesalahan atau kelemahan diri karena itu manusiawi

Gak perlu diumbar juga sih. Nanti malah terkesan bangga dengan kesalahan atau kelemahan diri. Namun yang terpenting, jangan sampai suka menyangkalnya. Seperti sudah jelas melakukan kesalahan, tetapi masih saja mengelak.
Kalau begini kan, kita malah gak akan belajar dari kesalahan yang dilakukan. Kita juga pasti gak akan mau mempertanggungjawabkannya. Bikin kesal orang saja. Begitu juga dengan kelemahan diri.
Tentu saja kita harus tetap berusaha memperbaiki diri. Akan tetapi untuk sisi kurang yang sangat sulit diubah alias sudah menjadi watak kita, ya diakui saja. Ini akan membuat orang lain lebih bisa memahami sikap kita.

2. Begitu pula kita gak perlu terlalu mencela kesalahan atau kekurangan orang lain

Melatih diri agar bisa bersikap adil pada orang lain memang sering gak gampang. Namun jika kita ingin kesalahan dan kekurangan kita gak ditanggapi orang secara berlebihan, sudah semestinya kita juga melakukan hal serupa pada orang lain.
Bukan malah seolah-olah kita sempurna sehingga gak bisa menerima ketidaksempurnaan orang lain. Sebab jika begini, hubungan kita dengan siapa pun pasti menjadi kurang baik. Orang-orang tidak nyaman dengan kita bahkan bisa merasa sangat terluka.
Kan, pada dasarnya setiap orang ingin diterima sepaket dengan kelebihan dan kekurangannya. Apalagi orang-orang terdekat kita, termasuk pasangan. Sedang bila ada yang melakukan kesalahan, cukup ditegur dengan baik. Gak perlu sampai mem-bully.

3. Menjadi perfeksionis itu menyiksa dan sia-sia

Benar, kita harus selalu berusaha mengerjakan apa pun dengan sebaik mungkin untuk meminimalkan kekeliruan. Namun menjadi perfeksionis justru akan merugikan diri sendiri. Kita menjadi lebih mudah tertekan oleh kesempurnaan yang tak kunjung tercapai.
Langkah kita juga menjadi terlalu lambat. Dalam pekerjaan, tentu ini bisa membuat kita kehilangan banyak proyek. Orang-orang yang bekerja dengan kita pun pasti akan stres. Jadi, bersungguh-sungguhlah dalam melakukan apa pun, tetapi jangan sampai terjebak perfeksionisme.

4. Gak usah terlalu sedih jika usaha terbaikmu masih saja dianggap kurang oleh orang lain

Ini ada kaitannya dengan peribahasa yang lain, yaitu ‘kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak’. Kita merasa sudah melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin. Kita berpikir gak ada lagi kekurangannya.
Namun ingat, kesempurnaan gak pernah menjadi milik kita. Maka gak heran jika orang lain tetap bisa menemukan kekurangan dari upaya terbaik kita. Orang lain sering kali lebih mudah melihat kekurangan kita ketimbang kita sendiri. Begitu juga kita dalam melihat kekurangan mereka, kan?

5. Hidup adalah kerja tak kenal henti untuk memperbaiki dan melengkapi

Sekalipun ketidaksempurnaan akan selalu mewarnai diri dan hidup kita, bukan berarti kita boleh bersikap pasif. Semua kesalahan yang telanjur dilakukan atau kekurangan diri dibiarkan begitu saja. Itu akan membuat hidup kita gak berkembang, gak berkualitas.
Bukannya makin berkembang dan berkualitas, kita malah akan makin terpuruk. Gak ada yang bisa dibanggakan dari diri dan hidup kita, selalu tertinggal dari semua orang.
Kita terus melakukan usaha memperbaiki dan melengkapi bukan untuk mengejar kesempurnaan. Namun agar kita tidak menyia-nyiakan kemampuan yang dimiliki untuk menjadikan sesuatu lebih baik daripada sebelumnya.