Cerpen Cinta Kasih Terakhir

Cerpen Cinta Kasih Terakhir

kumpulanperibahasa.web.id Cerpen memuat banyak perasaan yang tersirat dan tersurat dalam kata-kata, salah satunya adalah cerpen yang memberikan perasaan dan segenap kasih. Berikut ini adalah cerpen mengenai kisah kasih.

“Aku ingin ada seseorang yang akan kulukiskan dalam lembaran-lembaran kertas kehidupanku yang dipenuhi senyuman dan tangis kebahagiaan”
Kubaca sepenggal kalimat yang tertulis dalam buku diaryku yang telah usang dan dipenuhi debu.

“Mama” terdengar suara mungil itu memangggilku “iya sayang” aku buru-buru beranjak dari tempat tidurku dan menyimpan kembali buku diaryku ke dalam laci. “Mama, lihat kia dikasih boneka sama papa” ucap anak kecil itu kegirangan sambil menunjukkan boneka minion berukuran sedang yang sangat disukainya. Di belakang anak kecil itu berdiri seorang laki-laki yang tak asing lagi bagiku, dia tak lain adalah suamiku. Aku menghampirinya kemudian menjabat dan mencium tangannya, dia mengusap kepalaku dengan lembut dan tersenyum. Terlihat dari tatapan matanya kepadaku menandakan bahwa ia merasa bahagia ada pada posisinya saat ini, aku membalas tatapan matanya itu dan mulai menerawang bagaimana perjalanan kisahku bersamanya hingga bisa sampai pada titik ini.

Sore itu hujan turun cukup deras, aku berteduh di pelataran toko yang jaraknya tak jauh dari sekolahku. Pakaian putih abu yang kukenakan sedikit basah terkena air hujan, seharusnya aku tidak memaksakan diri untuk segera pulang dengan keadaan langit yang terlihat sudah tak mampu menahan air matanya. Tiba-tiba seorang laki-laki yang mengendarai motor matic berhenti di depanku kemudian ikut menemaniku berteduh di tempat itu. Sedikit aku melirik ke arahnya, aku lihat laki-laki itu bertubuh tinggi dengan wajah yang tampan kulit sawo matang dan hidungnya yang mancung. Seakan menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya dia menoleh dan tersenyum padaku, aku segera mengalihkan pandanganku. Suasana hening tercipta beberapa menit sebelum akhirnya dia memulai percakapan.

“Hujannya deras banget mana udah sore lagi” kupandangi rintik air hujan yang tidak berhenti membasahi bumi, aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. “kamu siswi Madrasah Aliyah itu?” tanyanya sambil menunjuk bangunan sekolahku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. “hmm kenapa jam segini baru pulang?” tanya dia lagi. “Ada pelajaran tambahan karena sebentar lagi ujian nasional berlangsung” jelasku padanya “oh jadi kamu kelas XII, hmm sama dong” tuturnya menanggapi penjelasanku. “lalu kenapa kamu baru pulang?” tanyaku basa-basi “tadi aku habis futsal, pas pulang di jalan malah hujan deras jadi berteduh dulu disini terus ketemu kamu. hehe” dia tertawa kecil sambil menggodaku.

Kring.. kring.. kring.. handphoneku berbunyi tanda panggilan masuk “halo assalamu’alaikum mah” sapaku “wa’alaikumsalam, kamu dimana? udah sore kok belum pulang, acaranya sudah mau dimulai” “iya mah sebentar lagi ra pulang” “hati-hati di jalan ra” “iya mah, assalamualaikum” jawabku lalu mengakhiri panggilan.

“Memang ada acara apa?” tanya laki-laki itu, mungkin samar-samar ia mendengar percakapanku dengan mama di telepon. Aku memandangi tetesan air hujan yang mulai reda. “Sore ini kakakku bertunangan, aku harus cepat sampai rumah untuk menghadiri acara itu. Tapi, hujan menahanku disini ditambah lagi angkot sedari tadi tidak ada yang lewat” aku tertunduk lesu.

Dia lalu memakai helmnya dan menstarter motor maticnya itu, aku bingung sendiri melihat tingkahnya. “Ayo aku antar kamu pulang, hujannya juga udah mulai reda” aku terperangah mendengarnya. Siapa laki-laki asing ini aku tidak mengenalnya dan tiba-tiba dia memberikan tumpangan gratis padaku? “udah jangan bengong nanti kamu terlambat, ayo naik” ajak dia lagi. Mau tak mau aku harus secepatnya pulang ke rumah aku tidak mau melewatkan acara bahagia bagi kakakku dan berharap laki-laki ini benar mengantarkanku sampai rumah.

Sampai di rumah ternyata acara pertunangan kakakku sudah selesai hanya rasa kecewa dan penyesalan yang aku rasakan saat ini, sampai aku lupa mempersilahkan laki-laki itu masuk ke dalam rumah. “kamu darimana saja baru pulang, basah kuyup gini lagi” tanya mamaku khawatir “tadi aku berteduh dulu nunggu hujan reda” jawabku pada mama “nak, masuk dulu biar ibu buatkan teh hangat untukmu” ajak mama mempersilahkan laki-laki itu masuk. Dia kemudian masuk ke rumahku dan duduk di atas karpet bekas acara pertunangan kakakku yang belum dibereskan.

Setelah berganti pakaian aku menghampiri dan ikut duduk di sampingnya. Tak lama kemudian mama datang membawa dua cangkir teh hangat “namamu siapa nak?” tanya mama padanya “Rizky” jawabnya sambil tersenyum, aku baru mengetahui namanya sekarang karena selama berteduh kami tak saling memperkenalkan identitas masing-masing. “Oh iya terimakasih sudah mengantarkan Dhira pulang” lanjut mama “iya sama-sama bu” jawabnya lalu berpamitan untuk pulang.

Keesokan harinya saat aku tengah menunggu angkot untuk pulang ke rumah tiba-tiba Rizky sudah ada di hadapanku “loh kamu” ucapku kaget “assalamualaikum nona cantik, ayo aku antar kamu pulang” ajak dia dengan lembut “waalaikumsalam, tapi..” belum aku melanjutkan perkantaanku dia sudah siap mengendarai motornya “ayo naik, lihat langit sudah mendung nanti kehujanan lagi” rayu dia. Aku cepat-cepat naik ke motornya karena tidak ingin papa dan mamaku khawatir melihatku pulang dengan keadaan basah kuyup seperti kemarin. Sepanjang perjalanan aku mengobrol banyak dengannya, bersenda gur bercerita tentang kepribadian masing-masing dan akhirnya saling bertukar momor handphone.

Beberapa bulan kami menghabiskan waktu bersama, terasa ada sesuatu yang lain di hatiku. Mungkinkah aku jatuh cinta lagi? Tidak! aku tidak ingin terpuruk lagi karena cinta yang tak seharusnya ada di hatiku. Aku mencoba menekan sebuah rasa cinta di hatiku agar tidak semakin menjadi-jadi, tapi apa dayaku saat mengajakku untuk dinner pada sabtu malam aku merasa sangat bahagia dan langsung mengiyakan ajakannya.

“dinnernya disini?” tanyaku heran saat masuk kesebuah warung penjual ikan bakar di pinggir jalan. “Iya, kamu keberatan? kalo gitu kita cari tempat lain” jawab Rizky dan bergegas pergi, “tidak, ayo duduk” aku menarik tangannya dan mempersilahkan dia duduk di sampingku. Kesederhanaannya itu yang membuat aku menyukainya, dia jauh berbeda dengan laki-laki yang pernah aku kenal. Meskipun dia berasal dari keluarga berada dia tidak pernah menghambur-hamburkan uang pemberian orangtuanya atau menyombongkan diri.

Baca Juga : Kumpulan Peribahasa Percintaan

Makan malam dengannya terasa indah diiringi alunan musik yang dimainkan pengamen, meski suara mereka tidak begitu merdu tapi kami tetap menikmatinya. “Mas boleh pinjam gitarnya? nanti saya beri uang sebagai gantinya” pinta Rizky pada seorang pengamen, “boleh silahkan” jawab pengamen itu. Aku tidak mengerti apa yang akan Rizky lakukan dengan gitar itu.

Rizky mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang tak asing lagi di telingaku, lagu “John legend – All of me” yang menjadi favoritku dia nyanyikan dengan suaranya yang merdu. Aku hanyut dalam lantunan lagu yang dia nyanyikan.

Tiba-tiba dia berhenti bernyanyi dan menggenggam tanganku sontak aku terkejut dengan itu. “Apa aku seperti type idealmu?” tanyanya “Apa?” “jika aku menyukaimu apa kamu mau menjadi kekasihku? lama aku menunggu untuk saat seperti ini” Rizky melanjutkan kalimatnya. Mulutku bungkam tak mampu berkata, terdengar suara pengunjung bersorak “Terima terima terima” aku memandang mereka dan tersenyum. “Baik, aku menerima kamu” kutatap mata Rizky lekat-lekat disertai tepuk tangan pengunjung yang meramaikan suasana di warung ikan bakar tersebut.

“Ma, kok bengong? ayo kita makan, papa udah laper ni. hehe” Rizky membuyarkan lamunanku. Kini dia telah menjadi suamiku, kami telah dikaruniai seorang putri yang cantik bernama Adzkia Putri yang masih berumur 3 tahun. Aku merasa menjadi salah satu wanita terbahagia di dunia ini karena bisa hidup bersama laki-laki yang sangat kucintai dan dianugerahi peri cantik yang selalu membuatku tersenyum disaat jenuh. Kuharap laki-laki ini menjadi kekasih terkahir dalam hidupku yang akan menemani habisnya sisa umurku.

Related posts