Cerpen Berjudul Laki Laki dan Kenyataan

Cerpen Berjudul Laki Laki dan Kenyataan

Kumpulanperibahasa.web.id – Kali ini kami akan menyajikan cerpen atau cerita pendek untuk diikuti. silahkan simak dengan baik cerpen yang ada dibawah ini untuk membaca cerita pendek tersebut yang berjudul Laki Laki Dan Kenyataan.

Dalam ruang keluarga ayah, ibu, dan kedua anaknya terduduk di atas sebuah karpet sambil tersenyum lepas ketika menonton sebuah acara komedi kesukaan di TV. Ayah berbicara pada Irza, seorang kakak tertua di keluarga tersebut, entah apa yang mereka bicarakan tapi, senyuman itu tidak lepas dari wajah mereka ketika berbicara satu sama lain. Kemudian terdengar suara ketukan pelan dari arah pintu ruang tamu yang diiringi oleh ucapan permisi dari seorang perempuan yang bersuara lembut.

Irza berjalan mendekati pintu, ia membuka pintu dan melihat seorang gadis berambut hitam kejinggaan terkena sinar matahari saat senja, rambut panjangnya melambai terkena angin sore. Terkejut serta bahagia meliputi laki-laki tersebut hingga tidak dapat berkata apapun, hanya wajah yang memerah serta perilaku canggung dari laki-laki itu yang dapat ia tunjukan pada gadis tersebut. Gadis tersebut menyembunyikan tawa dibalik tangannya, kemudian merapikan rambutnya yang terurai terhembus angin dan meletakannya dibalik telinga.

“Ada siapa? Kenapa lama-lama di depan pintu?” Ibu datang menghampiri ke arah pintu.
“G-Ga! Bukan gitu t-tapi…” Irza terlihat begitu gugup.
“Eh?!” Ibu terkejut “Siapa ini perempuan cantik datang ke sini?” lanjutnya.
“I-ini temen mah, ma-mau nginep katanya”
“Sore tante, saya Ara temennya Irza” ucap lembut gadis tersebut sambil tersenyum manis.
“G-ga usah malu-malu ayo sini masuk!!” ucap Ibu sambil menarik tangan Ara masuk ke dalam rumah.

Tawa serta senyuman terpasang pada wajah seluruh keluarga dan juga Ara yang berada ditengah-tengah kehangatan tersebut, mungkin hanya Irza satu-satunya orang yang memasang wajah penuh malu akan kelakuan keluarganya yang selalu menyindir Irza pada Ara. Percakapan tanpa henti akan kedatangan Ara pada keluarga tersebut membuat waktu berlalu begitu cepat, langit telah berubah menjadi hitam pekat, udara perlahan menjadi dingin menusuk kulit, kantuk mulai hinggap pada setiap orang.

Baca Juga : Cerpen Berjudul Senja Ini Tanpa Dirinya

Adik Irza naik ke lantai dua untuk membawa bantal dan selimutnya, ia terbiasa tidur di ruang keluarga sambil menonton TV, ayah dan ibu pergi ke kamar mereka yang berada di antara ruang tamu dan ruang keluarga, Irza dan Ara naik ke lantai dua. Irza menunjukan kamar adiknya yang jarang digunakan oleh Ara. Setelah mengantar Ara pada kamar adiknnya, Irza masuk ke kamarnya yang berada di sebelah kamar tersebut.

Suara deras hujan mengisi heningnya malam bersamaan dengan ketukan pada pintu kamar Irza, perlahan Irza membuka mata dan keluar dari balik selimutnya, hawa dingin menusuk kulit menembus daging hingga terasa ke tulang. Irza yang membuka pintu mendapati Ara sedang berdiri di depan pintunya sambil memeluk dirinya sendiri.

“A-ARA!!” Irza dengan terkejut dan suara pelan yang melengking seketika terdiam dan melirik ke segala arah “a-ara ada apa?” lanjutnya bertanya dengan wajah yang memerah.
“Um.. Bi-bisa antar ke wc?” Dengan tanpa melihat ke arah Irza terlihat telinga Ara sedikit memerah ketika mengatakannya.
“Ah… um… hu’uh..” Irza mengangguk.

Irza mengantar Ara ke toilet rumahnya yang ada di lantai satu. Ara mengikuti dari belakang sambil menutup mata, hingga tidak sadar bahwa telah sampai di depan toilet dan menabrak punggung Irza, detak jantung mereka sama seperti butiran hujan yang jatuh perdetiknya, mempompa darah lebih banyak ke sekujur badan mereka, hangat dan memerah di muka mereka membuat lupa akan dinginnya hujan. Setelah selesai mengantar Ara, mereka kembali ke depan pintu kamar di lantai atas.

“um.. Irza, boleh aku ke kamar kamu?” dengan suara yang memelas Ara meminta pada Irza.
“….” Irza menatap Ara “Apa Ara takut sendirian saat hujan ya?” tanyanya dalam hati “Y-ya” lanjutnya menjawab.
Terlihat wajah senang pada muka Ara. Ara masuk ke dalam kamar Irza, ia melihat sekitar dan menemukan sebuah console game.

“Ini punya kamu?” Tanya Ara pada Irza sambil memandangi console game tersebut.
“I-iya”
“Ayo main!!” Dengan senyuman di wajah, Ara mengajak Irza untuk bermain.
“B-Baik..” Irza tidak bisa menolak ketika ia melihat Ara tersenyum padanya.

Begitu banyak game yang dimainkan, tidak terasa hujan perlahan reda. Dibalik selimut merah milik Irza yang menyelimuti mereka berdua, mata Ara perlahan menutup, kepalanya perlahan menyender pada pundak Irza. Irza hanya bisa terdiam sambil menunggu Ara benar-benar tertidur dan membaring kan tubuhnya di atas kasur, mata Irza memandangi bibir Ara, wajahnya perlahan mendekati wajah Ara, pikirannya mulai tidak beres, hatinya mulai berdegup dengan kencang, lima centi lagi dan bibir mereka akan bersentuhan. Irza menutup matanya, ketika matanya terbuka ia mendapatkan dirinya sedang menatap langit-langit kamar, tubuhnya terbaring di atas kasur dan disinari cahaya pagi.

“Ini hanya mimpi ya… Tidak, Inilah kenyataan… SIAALLL!!!” Pagi itu Irza memulai harinya dengan air mata yang mengalir melalui pipinya.

Related posts